Dampingi Generasi Z dengan Menjadi Orangtua yang Up To Date Supaya Tidak Kudet

Wednesday, March 24, 2021


Halo Parents, kalau membahas Anak-anak zaman now, pasti kita langsung terpikir tentang, "Generasi Z", ya gak sih? Ya! merekalah Anak-anak dengan rentang usia 7-21 tahun, penerus generasi Milenial (gen Y) yang saat ini berusia 22-36 tahun. Saya dan Suami yang merupakan Generasi Y, sangat melihat dan merasakan perbedaan dalam banyak hal terutama karena Gen Z saat ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Jauh lebih pesat dibanding masa Mama Papanya kecil dulu.

Jangankan Anak pertama yang berusia 7 tahun yang belajarnya sudah serba menggunakan gadget, si kecil yang masih berusia 2,4 tahun dan masuk Kategori Genenasi Alpha pun sudah mulai mengerti akan gadget. Waduh waduuuh, apakah tidak terlalu cepat? walaupun selalu didampingi namun seringkali ada rasa khawatir. Sekecil itu sudah tahu remote, kapan harus Skip Add (kalau ada iklan di Youtube), bahkan tombol untuk menelepon Papanya pun tahu.

Di kondisi tertentu, saat saya sedang lelah dengan semua kesibukan, jujur suka ngomel dan ngedumel sendiri, bahkan pernah terlontar kalimat ke Si Sulung, "duh Kaaak, gadget terus deh, belajarnya kapaan? dulu waktu Mama seusia Kakak, mana dibolehin main HP terus, yang ada Mama baca buku terus dan main permainan Anak pada umumnya (pada saat itu)".

Terlebih setelah memasuki masa Pandemi yang apa-apa serba online, dimana mengharuskan (mau tidak mau) Anak-anak belajar di Rumah secara daring menggunakan gagdet (komputer, laptop, dan smartphone). Di sisi lain, pekerjaan saya pun setiap saat bersinggungan dengan gadget dan online hampir 24 jam. Suami yang sempat Work From Home juga membuat kesibukan kami bekerja online di Rumah menjadi semakin nyata.

Alfath dengan Hobi Foto & Editing

Laptop bertebaran, kuota internet berlangganan pun kami tambah demi lancarnya semua kegiatan daring ini. Yang awalnya kami sempat kewalahan, akhirnya cukup terbiasa dengan new normal yang ada. Si Sulung dengan hobi barunya edit foto dan video, mulai tertarik dengan desain grafis, juga mulai minta izin (terus menerus) untuk dibolehkan main game, akhirnya membuka mata saya dan Suami memang zaman sudah berubah, dan kami harus menyesuaikan diri supaya dapat mendampingi Anak-anak dengan tepat. Sudah seharusnya kita menjadi Orangtua yang update dan say no to "kudet".


Jadilah Orangtua Yang Update supaya Tidak "Kudet" (Kurang Update)

Rasa penasaran yang mulai menumpuk di benak saya dan Suami seolah terjawab di Webinar yang diadakan Parents Update, yang mengangkat tema luar biasa dan relate dengan yang terjadi saat ini, yaitu "Jadi Parents Melek Digital Ala Gen Z". Hadir salah dua Narasumber dalam Webinar kemarin, yaitu Ibu Dya Loretta., SE., M.Ikom, CSP, CPM (Biasa dipanggil Ibu Dylo), dan Ibu Sonya Sinyauri selaku Kepala SMA Lazuardi. Banyak sekali yang saya pelajari dari Webinar ini, terutama mengenai bagaimana caranya saat kita ingin dibanggakan oleh Anak-anak kita sendiri.

Menurut Ibu Dylo, menjadi Orangtua kebanggaan Anak itu sebenarnya tidak sulit dan repot, kuncinya adalah kita harus selalu adjusting. Menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di era Anak-anak kita. Dengan kecanggihan teknologi yang ada saat ini, dan kita pun tidak dapat memungkiri bahwa Anak-anak kita dengan mudahnya bisa mengakses Informasi terkini.

Dengan banyaknya informasi yang mereka serap, menjadikannya lebih kritis dalam berpikir, sebagai user digital mereka tentunya senantiasa up to date, dan percaya diri. Walau begitu, Ibu Dylo pun mengingatkan agar Orangtua selalu mendampingi Anak-anaknya dalam penggunaan gadget.

Hampir semua yang dijelaskan oleh Ibu Dylo membuat saya senyum-senyum sendiri, mumpung Papanya Anak-anak sedang libur, saya juga mengajaknya untuk ikut menyimak Webinar ini. Sambil bisik-bisik saya bilang ke Suami, "penjelasan Ibu Dylo tuh Anak kita banget ya", kami pun tertawa berdua sambil angguk-angguk kepala.

Gimana enggak, si sulung kami sudah terbiasa ngetik tugas di laptop, sudah memahami fitur-fitur yang ada di berbagai aplikasi (terutama aplikasi edit foto dan video), bahkan sudah mempunyai Youtuber Idolanya sendiri. Pantas saja Ibu Dylo mengatakan bahwa Anak-anak Gen Z cebderung terlatih otak kanan dan kirinya di waktu sekaligus, yang memungkinkan mereka akan mudah multitasking.

Para Gen Z akan memiliki cita-cita yang jauh berbeda dengan Cita-cita Orangtuanya semasa kecil. Gen Z akan lebih memilih dunia yang memang passion-nya mereka, cenderung bersinggungan dengan teknologi, dengan jam kerja yang lebih fleksibel dan memungkinkan mereka menjadi Bos untuk diri mereka sendiri.


Untuk dapat memahami mereka, kita selaku Orangtua tidak bisa sendirian. Kalau perlu, bisa kita libatkan Keluarga besar, datangkan Coach di bidang tertentu sesuai dengan hobi Anak, juga menjadi bagian dari Komunitas yang dapat menjadi support system tambahan bagi Anak. Bagaimanapun, Para Gen Z ini biasanya mempunyai pattern dalam role model.

Untuk mendampingi Para Gen Z dengan otaknya yang canggih, kita juga gak boleh "kalah" dong ya. Jangan sampai tertinggal jauh terutama dalam pemahaman soal teknologi. Minimal kita mengerti kira-kira apa yang Anak-anak kita butuhkan dari kita sebagai bentuk dukungan bagi mereka.

Memiliki Orangtua yang sama-sama memahami perkembangan zaman dengan segala hal-hal barunya, tentu Anak-anak kita akan semakin leluasa untuk menjadikan kita teman sharing dalam berbagai hal atau masalah. Kita bisa dijadikan "tempat pertama" untuk mereka berbagi hingga mencari solusi. Dengan hal itu tentulah bonding diantara Orangtua dan Anak pun akan semakin terjalin lebih kuat.

Bagi saya dan Suami, salah satu ikhtiar/usaha kami mendapingi Anak-anak untuk dapat berkembang dengan baik hingga kelak mereka bisa meraih impiannya masing-masing, salah satunya adalah dengan memilihkan Sekolah yang tidak hanya terbaik yang mampu kami berikan, namun juga yang paling tepat dengan apa yang mereka butuhkan. Definisi Sekolah saat ini tidak hanya duduk manis di Kelas/Ruangan dan mendengarkan apa yang Bapak/Ibu Guru terangkan, namun Sekolah di era sekarang sudah lebih fleksibel baik secara jarak, ruang dan waktu. Dengan adanya jaringan internet dan gadget yang mumpuni, Sekolah tidak hanya dapat dilakukan secara offline namun juga dapat dilakukan secara online.


SMA Pintar Lazuardi - Blended Learning High School

Berbicara mengenai Sekolah yang tepat, SMA Pintar Lazuardi merupakan Sekolah yang harus dipertimbangkan. Mulai beroperasi sejak tahun 2021-2022 sebagai pengembangan dari Sekolah Lazuardi Group, SMA Pintar Lazuardi ini seolah memahami kondisi Dunia Pendidikan di masa Pandemi. Mengingat Sekolah online (khususnya SMA dan Universitas) menjadi cara belajar alternatif yang paling aman.

Lazuardi membuktikan komitmennya untuk konsisten berkontribusi pada Sistem Pendidikan Tanah Air, salah satunya dengan menyelenggarakan SMA Blended Learning yang menambahkan aktivitas hands on mandiri siswa melalui Project Based Learning, juga dukukan Learning Management System (LMS) yang diberi nama Pintar (Pedagogical Intelligence Architecture). Kurikulum SMA Lazuardi mengacu kepada Kurikulum Nasional yang sedang berlaku, dilengkapi konten kurikulum dari berbagai Negara dan kurikulum keahlian.


Beberapa kelebihan dari SMA Pintar Lazuardi :

  • Menggabungkan antara kegiatan tatap muka (offline) dan pembelajaran online.
  • Prosentase belajar online lebih besar dari belajar offline.
  • Kegiatan tatap muka dilakukan seminggu sekali di Sekolah home based, yang difokuskan untuk pembentukan karakter, pengembangan keterampilan sosial, coaching tentang karir, dan untuk melaksanakan kegiatan praktikum yang tidak dapat dilakukan melalui pembelajaran online.
  • Untuk murid yang berasal dari wilayah yang belum tersedia sekolah home based, kegiatan offline akan diganti dengan program pengayaan dan coaching secara online.



Keunggulan Learning Management System (LMS) PINTAR (Pedagogical Intelligence Architecture)

MULTIPART
Materi yang dipilih hanya materi fundamental dari sebuah mata pelajaran, supaya lebih mudah dipahami oleh Siswa.

FEEDBACK SYSTEM
Sistem ini yang menjadikan proses belajar menjadi lebih efektif karena Siswa dilibatkan lebih aktif dengan interaksi, saling memberi dan menerima umpan balik (feedback). Akan sangat bermanfaat juga untuk mencari tahu pencapaian hasil belajar, membentuk Komunitas belajar, juga mendokumentasikan portofolio yang fleksibel diakses dimana saja.

DIFFERENTIATED LEARNING
Metode ini memungkinkan Siswa memiliki tahapan yang berbeda-beda. Diagnostic Assessment akan memandu learning path yang akan dilalui Siswa deari urutan materi.

LEARNING PATH
Setiap Siswa akan memiliki jalur atau "peta" untuk mencapai hasil belajar yang disesuaikan dengan kemampuan dan tujuan pembelajaran.

MULTI FRIENDLY CONTENT
Materi pembelajaran lebih mudah dipahami oleh Siswa karena dikemas dan disesuaikan dalam berbagai macam bentuk.

GAMIFICATION
Menambahkan unsur permainan (games) dalam pembelajaran supaya Siswa dapat belajar lebih fun.


Yuk, jadi Parents yang Up To Date!

Dengan semua insight positif di Webinar kemarin, semoga saya dan Suami bisa menerapkan di kehidupan sehari-hari kami. Bisa lebih mengerti dan memahami apa yang mereka butuhkan di setiap proses belajarnya. Tentunya dengan terus meng-update dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dengan segala kecanggihan teknologinya, dan kecanggihan berpikir Anak-anak Gen Z ini. Tidak lagi memaksakan kehendak dan pikiran sendiri karena walau gimana, zaman sudah berubah, cara komunikasi hingga konsumsi akan hiburan pun bisa dilakukan serba daring, jadi jangan membatasi kebutuhan Anak akan gadget, namun tetap membatasi mana yang krusial diperlukan dan yang mana masih bisa kita batasi.

Tetap semangat ya Parents! Kita bisa! 


You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar dengan baik TANPA link hidup di kolom komentar. Dan cukup pakai Url blog saja ya teman-teman di ID namanya.

Part Of Author

Part Of Author
Buku Antologi Pertama & Kedua

My Voice Over Here (BTS Dubbing)

Like us on Facebook

Subscribe