Nulis Ini Gara-Gara Geger Surat Keberatan dari Sebuah Brand untuk Seorang Content Creator

Saturday, January 30, 2021

 

"𝐷𝑖𝑘𝑒𝑐𝑒𝑤𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔-𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔𝑛𝑦𝑎.." - eh apa nih

Heihooo.. ma'afkan untuk postingan receh kali ini, karena emang lagi pengen cerita apa yang terlintas di benak aja, aiiiih.

Belakangan Saya tuh merasa butuh banget suasana baru untuk tempat kerja di Rumah, alasannya banyak sih sebenarnya, tapi yang paling mendasar karena butuh suasana baru dan memang kebutuhan space yang semakin luas. Tapi apa daya, ruangan yang ada tidak terlalu memadai untuk memenuhi keinginan saya, jadinya harus pintar-pintar cari ide yang dapat menjadi jalan tengahnya. Pinterest adalah "jalan Ninja" saya, as ussual. Walau sampai sekarang belum nemu yang klik di hati, sambil berjalan deh ya.

Sementara, abadikan momen dulu buat kenang-kenangan sebelum upgrade meja yang udah "sesak" karena "penduduk"nya makin banyak. Pojok sederhana untuk berkarya, bikin Story line, script writing, voice overing, Blogging, editing, dll. termasuk mengembangkan web www.femaledigest.com with the other beloved team.  Sok nginggris walau dikit-dikit demi membiasakan diri di Rumah dalam rangka persiapan Alfath yang akan masuk Bilingual School, do'akan kami  ya Guys, walau belibet. Lol.

Jadi, meja kerja saya ini memang belum ketemu dengan "jodoh"nya alias kursi kerja yang nyaman, kursi sebelumnya kecil dan bikin pegel kalau ngetik lama-lama, makanya akhir tahun 2020 kemarin saya dan Suami keliling cari kursi tersebut. Banyak banget pilihannya, dan nemu beberapa yang kami suka dan budget-nya sesuai untuk kami, tapi kok tampak kegedean untuk meja mungil ini. Akhirnya kami memutuskan pending dulu beli kursinya, dan nabung buat beli meja yang lebih besar dulu aja, syukur-syukur rezekinya ada buat beli dua itu sekaligus, Amiiin Ya Allah.

Btw di pojok ini juga, saya menjajal diri untuk terus mengembangkan diri, mendobrak limit, menuangkan ide untuk Menulis hingga review produk dan pekerjaan online lainnya (selain di kamar sambil nemenin Anak Bobo). Gak langsung jadi, pasti ada proses -hapus ulang hapus ulang-nya. Sering juga ide ngalir sendiri dan datang seketika. Suasana hati dan product knowledge jadi 2 pendukung utama.

Meja semakin terlihat mungil, sementara badan saya semakin terlihat lebar, haha

Berusaha berkarya sebaik mungkin walau tahu banget hasilnya belum sempurna. Selalu berusaha untuk menyemangati diri sendiri juga dan appreciate karena sudah mau berusaha dan tetap produktif sejauh ini, melawan rasa malas dan mager ditengah tugas-tugas utama lainnya, di masa Pandemi ini.

Sedih makanya dengan kabar kemarin mengenai sebuah konten (free review with positive tone) yang dapat "surat cinta" dari si Brand yang direview. Baca poin-poin keberatannya kocak sih, (Pak Hendra kok begitcu yaa, wkwkwk). Kalian udah pasti tahu kan ya beritanya? beluman? cari aja di akun lambe-lambean juga diangkat kok dan kemudian menjadi viral di berbagai platform media sosial. Cari aja dengan keyword "surat keberatan" & "Pak Hendra" pasti keluar kok beritanya karena segeger itu di jagat per-media-sosialan.

Tapi salut juga untuk tindakan cepat minta ma'afnya Brand yang bersangkutan, walau yakin gak semua hati bisa ma'afin gitu aja. Bayangin aja kayak dikecewakan saat sedang sayang-sayangnya itu rasanya gimana ya, hemm.. udah gitu surat permintaan ma'afnya juga diembel-embelin dengan pernyataan bahwa maksud dari surat keberatan tersebut adalah untuk membuat kontennya jadi lebih bagus lagi. Lho kok? 

Jujur saya sempat merasa kecewa atas kejadian ini, memang kasus ini tidak ada hubungannya dengan saya, personally. Tapi sebagai orang yang juga punya hobi bikin konten, memang jadi timbul keresahan tersendiri sih, karena selama saya menjalani pekerjaan sebagai Content Creator, hal seperti ini baru saya temui kali ini. Atau memang saya yang kudet? hingga saking kecewanya, saya sempat bikin story seperti ini dong, haha.

Yaah, kebuka deh nama Brand-nya, So Sorry

Tapiiiii bagi Para Content Creator, yuk yuk semangat ngonten yuuk, dengan penuh rasa tanggung jawab tentunya. Saling mengingatkan dengan penuh kasih juga yaaa. Hidup udah berat, jangan ditambah dengan surat ke"berat"an macam badan ini. Kalau kita emang passion-nya bikin konten, yaudah ngonten aja dibayar ataupun tidak, dengan perangkat profesional ataupun yang masih sederhana. Menerima kerjasama karena faktor "butuh uang" atau kebutuhan lainnya juga oke-oke aja kok, selama tidak ada pihak yang dirugikan, saya yakin siapapun bisa dan berhak jadi Content Creator yang baik dan bijak.

Dan semoga, tidak ada lagi Brand yang mainnya surat-suratan kayak gitu, apalagi seolah memojokan dan meminta apa yang bukan hak-nya. Kecuali, Content Creatornya memang sedang ada kontrak kerjasama dan melanggar ketentuan yang sudah disepakati, selesaikan deh tuh baik-baik.

Intinya sih, jangan sampai kejadian seperti ini menorehkan luka dan rasa trauma teman-teman Content Creator untuk berkarya karena dihantui rasa takut dan khawatir, dan sekali lagi, penting sekali sebuah konten dikerjakan dengan rasa cinta dan penuh tanggung jawab.

Insya Allah nulis ini gak maksud pansos, menggurui, merasa sok tenar, merasa sok ngerti, tapi memang kasus ini jadi bahan pelajaran dan perenungan banget untuk saya pribadi. Sengaja ditulis supaya dapat dibaca lagi sewaktu-waktu dan mengingatkan saya untuk terus memperbaiki diri dalam hal apapun, terutama di bidang digital.

Makasih lho udah mau baca ini, tetap semangat yaaa, saya mau lanjut intipin pinterest dulu, dadaaah.

#savecontentcreator

#spreadlove

You Might Also Like

1 komentar

  1. Hahaha.. Kalau saya memandangnya, yah, itu hak jawab dia. Mungkin dia merasa dirugikan karena ada bagian yang tidak sesuai dengan branding yang diinginkan.

    Wajar saja menurut saya sih, tidak perlu dipandang terlalu negatif.

    Tulisan dari seorang content creator juga bukanlah sesuatu yang harus dipandang tidak boleh dikritik. Ketika seorang content creator menerbitkan sebuah karya, maka karyanya itu juga boleh dinilai.

    Kalau dalam hal ulasan, ya pemilik brandnya juga memiliki "hak jawab" terhadap sesuatu yang menurut mereka tidak sesuai. Walaupun bukan sebuah paid review, tetap saja karya ulasan tersebut tidak bebas kritik atau nilai.

    We are just human after all dan masing-masing punya ruang berbuat salah. Interaksi seperti ini sepertinya malah membuak kesempatan untuk saling menjalin hubungan yang lebih baik dengan pihak pemilik brand.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar dengan baik TANPA link hidup di kolom komentar. Dan cukup pakai Url blog saja ya teman-teman di ID namanya.

Part Of Author

Part Of Author
Buku Antologi Pertama & Kedua

My Voice Over Here (BTS Dubbing)

Like us on Facebook

Subscribe