BUMI - MANUSIA PRAMUDYA

Wednesday, January 19, 2011

KEBANGKITAN BUMI MANUSIA :
DARI HUMAN MENJADI HE-MAN (MASTER OF THE UNIVERSE)

It is Allah who sends forth the Winds so that they raise up the Clouds, (3881)
And We drive them to a Land that is dead,
And revive the earth therewith after its death:
Even so (will be) the Resurrection!
surah 35:9 Fatir (The Originator of Creation)
"3881. The allegory here is double. (1) Dry, unpromising soil may seem, to all intents and purposes, dead; there is no source of water near; moisture is sucked up by the sun’s heat in a far-off ocean, and clouds are formed; winds arise; it seems as if the wind "bloweth as it liseth," but it is really Allah’s Providence that drives it to the dead land; the rain falls, and behold! There is life and motion and beauty everywhere! So in the spiritual world Allah’s Revelation is His Mercy and His Rain; there may be the individual resurrection (Nushur) or unfolding of the soul. (2) So again, may be the general Resurrection (Nushur), the unfolding of a New World in the Hereafter, out of an old World that is folded up and dead."
Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an
(Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an, 1989.)

Dan Allah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami menghalau ke negeri yang mati (tandus), maka Kami hidupkan dengannya bumi sesudah matinya. Seperti itulah KEBANGKITAN. (QS 35:9)

Waktu kecil salah satu tokoh superhero yang saya kenal adalah Superman yang menjadi Pahlawan Bumi dan He-man Master Of The Universe karena kehebatannya melawan musuh-musuh umat manusia dan yang mengancam kelangsungan hidupnya di Panetnya masing-masing. Kalau Superman tokoh Palnet Krypton yang diselamatkan bapak ibunya ke Bumi, He-man adalah tokoh lainnya yang menggambarkan bagaimana seseorang makhluk planet lain kembali turun ke dunianya untuk mengatasi kekacauan di Planetnya. Kedua superhero tersebut hanyalah khayalan manusia saja yang sebenarnya menggambarkan angan-angan dan khayalan membumbung tinggi manusia tentang Pahlawan pujaannya dengan kemampuan fantastik dan dengan harapan moga-moga menyelamatkan kehidupannya dengan mudah dan wahh heboh banget. Tentu saja demikian, wong namanya cerita komik.

Tapi nampaknya pengarang kedua Tokoh Dufan (Dunia Fantasi) tersebut bukan sekedar mengarang kisah dengan idola fantastik semata ketika memperkenalkan Superman dan Heman serta tokoh Dufan lainnya di Planet Bumi dan dibaca oleh milyaran anak manusia. Ungkapan pengarang tersebut dan tentunya penggemar tokoh komik tersebut hanya sekedar gambaran psikologis bahwa kita sebagai umat manusia merindukan satu tokoh penyelamat, mesiah, atau Imam Mahdi padahal kita sendiri, kalau memang sadar dan tobat, bisa menjadi bagian dari apa yang digambarkan oleh tokoh Messianistik Fantastik tersebut yaitu bagian dari Ressurection Umat Manusia di Planet Bumi yang sampai hari ini semuanya masih kita cerna dengan geometri, bilangan dan huruf sebagai medium halusinatif khayal dan angan-angan kita dengan Idea Ideal Paling Tinggi Menuju dan Sampai Kepada Allah, Rabbul ‘Aalamin (Inteligence Being).

QS 35:9, 35=5x7, 57+35=92=MHMD, yang saya kutip diatas adalah kodefikasi yang berhubungan dengan Kebangkitan Kembali Umat manusia di Planet Bumi dari teler panjangnya setelah penyebutan Asma ke-Seratus Allah Yang Maha Tinggi yang diucapkan oleh dia yang mendapatkan petunjuk sesuai dengan namanya dengan susunan 3 dan 5 huruf yang mengaktualkan Maghfirah (ampunan Allah) dengan Pengetahuan- Nya (Knowledge).

Selain, menyiratkan penulisan komposisi 92 unsur yang membangun Kehidupan di Planet Bumi yang dibarokahi Nama Muhammad (92), penulisan nomor ayat ini menunjukkan ungkapan terselubung dari 35+9=44=11x4 sebagai kodefikasi An-Nass yang seringkali diterjemahkan sebagai Manusia namun sesungguhnya “Kehidupan Manusia” pada posisi paling nyata dan optimum sebagai puncak evolusi Kehidupannya di Planet Bumi yang dilakukan melalui pemanfaatan kedua belah telapak tangan dan kakinya sebagai Rahmat Allah yang harus disyukuri dan harus digerakkan untuk bertindak dengan kesadaran kudus yang menyadari pentingnya : keselarasan antara hati sebagai sumber aktualnya ilham Allah berupa niat dari Hati (Qalb) yang harus dijaga supaya tetap lurus ketika melalui medan Wa Nafsi, akal pikiran (al-Aql) dan tindakannya sehari-hari sebagai manusia yang beriman.

Dalam proses menyatakan niat yang muncul dari dalam hati itu, manusia menyadari bahwa selama prosesnya karakter was-was dirinya yang seringkali lalai dan alpa akan muncul dan berupaya untuk mengambil alih semua niat baik yang ingin dinyatakanNya dan harus mengatasinya secara terus menerus sebagai Jihad Terbesarnya yaitu mengendalikan hawa nafsunya dengan hanya bersandar pada Pertolongan Allah (QS 110) semata bukan yang lainnya seperti diungkapkan dalam QS 114:1-6.

Nomor ayat QS 35 yaitu 9 adalah at-Taubah sebagai kode yang menyatakan aktualnya maghfirah di Bumi tersebut (kata maghfirah disebutkan 234 kali disebutkan didalam AQ). Sedangkan tujuan akhir dari at-Taubah yang membangkitkan jiwa yang mati dan bumi manusia yang tandus tersebut tercantum sebagai QS 9:128-129 yang secara langsung menyatakan personifikasi akhlak Muhammad (akhlak yang dikembangkan dengan panduan al-Qur’an) dengan penauhidan kepada Allah SWT yang benar dan kokoh dengan dasar-dasar Pengetahuan Tauhid yang benar juga.

Bumi tersebut bukanlah bumi yang mati secara fisik semata tetapi bumi sebagai “BUMI MANUSIA sebagai LAAM” yang sudah tidak memahami dan telah menjadi bagian dari dajjal (summum bukmum umyun) menjadi memahami kembali pengertian-pengertian yang berkaitan dengan makna dirinya dan melakukan recovery dari keadaannya dengan petunjuk Allah SWT.

Nun, Syin, Wau, Ra yang disebutkan sebagai Nusyuur di penutup ayat yang diterjemahkan sebagai kebangkitan adalah kebangkitan yang sifatnya individual orang perorang yang kemudian menyebar menjadi kebangkitan dalam skala yang lebih luas sebagai suatu Kesadaran Transformatif Bersama sesuai dengan bidang dan potensinya masing-masing (Catat: jadi jangan berharap dengan nafsu bahwa pengalaman ruhaninya sama, Allah memperkenalkan diriNya sesuai dengan prasangka hambaNya dalam arti sesuai dengan karakter si hamba bukan karakter gurunya maupun keinginan-keinginan kita, Jadi berserah dirilah kepadaNya dan mintalah apa yang diinginkanNya sesuai dengan KehendakNya) .

Tanda dimulainya kebangkitan kembali tersebut adalah turunnya hujan setelah Allah mengirimkan angin, awan, dan menghidupkan bumi tersebut secara fisikal sebagai turunnya hujan setelah lama kekeringan tetapi juga dapat ditafsirkan sebagai terbukanya pengertian Pengetahuan Tauhid (Knowledge) dari ujung jari telunjuk dan ibu jarinya (ingat saja kenapa kita selama mengakhiri ketukan shalat 2 rakaat mengacungkan ibu jari dan telunjuk) yang sesuai dengan tuntutan Allah SWT yang menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang telah lama mati dan tandus karena melalaikan diri sendiri. Jadi hujan yang disebutkan dalam QS 35:9 adalah Pengetahuan Tauhid langsung dari pengajaranNya melalui proses Iqra dan penyucian jiwa yang benar dengan tuntunan guru mursyid supaya tidak tersesat atau disesatkan oleh khayal dan angan kita karena khayal dan angan kita adalah suku-suku Yakjuj dan Makjuj yang turun dari tempat tertinggi yaitu imajinasi liar kita sendiri.

(Catat: Guru mursyid pada posisi pengajaran langsung ini hanya berperan di fase-fase awal perjalanan sebagai rambu-rambu petunjuk jalan supaya tidak tersesat. Karena itu perannya pada mereka yang melakukan proses penyucian jiwa lebih banyak sebagai rujukan sebagai evaluator saja karena boleh jadi apa yang dikira awal mulanya pengalaman ruhani adalah bisikan nafsu kita sendiri yang menyodorkan iming-iming mulai dari harta sampai tampilnya wanita, serta godaan lainnya.)

Jiwa-jiwa yang mati dapat dihidupkan kembali dengan penyucian jiwa seperti yang dilakukan oleh pemuda Al-Kahfi (QS 18) dan dijelaskan dalam QS 91:7-10. Dengan penyucian jiwa dan Iqra yang benar untuk membaca kembali pesan-pesan Tuhan baik didalam dirinya maupun alam semesta yang dicitarasakannya maka jiwa-jiwa mati yang menghuni bumi yang telah mati karena kekeringan yang melanda di seluruh jajaran penghuninya sebagai kekeringan ruhani akan bangkit kembali dengan pemahaman yang lebih jernih bahwa hanya dengan menyadari peran dirinya sebagai seorang muslim yang tunduk atas perintah dan larangan Tuhan dan sadar dengan keadaan dirinya, lingkungannya, dan Allah sebagai tujuan hidupnya saja jiwa yang mati yang menghuni negeri yang sekarat bisa selamat melalui krisis yang berkepanjangan karena kelalaian yang dibuatnya sendiri.

Saat itu terjadi kebangkitan kembali telah dimulai dengan pesona yang dapat digambarkan oleh pelakunya (pelaku penyucian Jiwa dengan tuntunan yang benar dan Iqra yang benar) sebagai pesona kehidupan di alam surgawi - Surga ‘Adn - sebagai surga yang dirasakan secara menyeluruh sebagai kesadaran transformatif Pribadi Muslim yang mengubah cara pandang seseorang pribadi muslim dari kelalaiannya menjadi kesadaran transendennya menuju dan sampai kepada Allah SWT.

Maka jadilah Imam-imam Mahdi, dan Isa Ibnu Maryam yang dihadirkan dalam sosok jiwamu untuk memerangi dajal-dajal hawa nafsumu yang sudah dipenuhi gerombolan suku-suku Yakjuj dan Makjuj.

Lima Key Words penyelamat bagi Umat Manusia dan Kehidupannya di Planet Bumi :

Man Arofa Nafsahu, Faqod Arofa Robbahu.
Jihad terbesar bagi manusia adalah memerangi dan mengendalikan hawa nafsunya sendiri sehingga tercapai Aslim (Islam, Berserah diri dan tertunduk di hadapan Kemahakuasaan Allah).
Singhasana Allah ada didalam hati kaum beriman yang sadar akan dirinya, lingkungan hidupnya dan Penciptanya dan “Membaca (Iqra) Pesan-pesan- Nya ( surat CintaNya) dengan menyucikan kembali jiwanya”.
“Annallahu, Rabbul ‘Aalamin” didalam Qalb al-Mukmin (al-Mukminun adalah esensi manusia yang aslinya menyaksikan Ke-Esa-an Allah, al-Mukmin adalah al-Mukminun yang patuh dengan perintah dan larangan-Nya, mematuhi sunnatul rasul, dengan ketaqwaan, keyakinan yang Haqq, al-Haqq al-Yaqin, keikhlasan, syabar, syukur dan istiqomah menetapi Shirathaal Mustaqiim (hamparan maha luas sebagai Kemahabesaran Pencipta yang dilihat dari Planet Bumi sebagai Kehidupan yang menjadi ladang Maghfirah bagi Umat Manusia sebagai Bani Adam BUKAN Bani Ablasa). Umat Manusia sebagai An-Naas adalah Semua Manusia dengan Kehidupan di Planet Bumi yang dinaungi 92 unsur utama yang menunjang hidupnya yang direfleksikan atau dihidupkan dari Washilah Nur (256) Muhammad (92). Manusia sebagai suatu Bani yang berasal dari pengertian Adam dan Hawa sebagai penemu sistem Ilmu Pengetahuan dengan geometri, bilangan dan huruf adalah Insaana Fii Ahsaani Taqwiim sebagai makhluk yang dijadikan sebaik-baiknya karena mampu mencitarasakan Asma, Sifat dan Af’al Allah dan menghimpunnya menjadi KNOWLEDGE BERBASIS TAUHID untuk menyatakan masyarakat yang menyadari AdaNya al-Haqq (ATAU kataksan saja jangan malu-maluin TAUHID BASE SOCIETY) di alam cahaya tampak dalam spektrum panjang gelombang al-Rahmaan 0.55 mikron dengan warna-warni Red Green Blue yaitu Fii Ahsaani Taqwiim dengan nilai numerik 765=255+255+ 255).
La ilahaa illaa Allaah, Muhamadurrasulullah



You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar dengan baik TANPA link hidup di kolom komentar. Dan cukup pakai Url blog saja ya teman-teman di ID namanya.

Part Of Author

Part Of Author
Buku Antologi Pertama & Kedua

My Voice Over Here

Like us on Facebook

Subscribe