#CeritaKereta : Iya Pak, Saya Hamil

Saturday, May 06, 2017


Halooo, sebelumnya mau ngasih tahu dulu kalau saya happy banget!. Kenapaa? Karena akhirnya saya mau juga publish #ceritaKereta yang selama ini cuma numpuk di Notes. Ini "gara-gara"nya Mba Ophie Ziadah yang waktu itu baca status saya di facebook tentang salah satu #ceritaKereta saya, dan akhirnya ngajakin duet posting alias kolaborasi sebagai sesama "AnKer" (Anak Kereta). Tentu saja saya sambut gembira tawarannya Mba Ophie, ayolah kita Tandem.

Sedikit cerita, saya dan mba Ophie ini memang selalu naik kereta setiap kami berangkat dan pulang kerja. Saya tinggal di Depok sementara Kantor saya di Kawasan Kebon Jeruk, well bisa kalian bayangkan ngga jarak yang terbentang? Haha, dari ujung ke ujung lah ya pokoknya. Setiap perjalanan kami setiap harinya, selalu menyisakan cerita-cerita seru (nyenengin, kocak, banyak juga nyebelinnya), maybe that's why kami berpikir untuk mengabadikan beberapa #ceritaKereta itu dalam tulisan. Kalian bisa ikut ramaikan juga tagar #CeritaKeretaOphieHani ya untuk memudahkan pencarian, siapa tau juga kan suatu saat kami akan bikin giveaway menarik bagi para AnKer, Amiiiiin.

Ohya, baca #CeritaKereta punya Mba Ophie juga ya, seorang Pejuang Kereta yang selama delapan tahun menyaksikan "metamorphose" dari mulai Kereta Api Langsam, KRL Ekonomi, KRL Eksekutif, hingga Commuter Line sekarang ini.


Happy reading, Gaess!!. 

Sebenarnya ini agak lompat ceritanya, tapi nanti insya Allah saya akan tulis beberapa cerita flashback. Jadi, disini saya akan cerita kalau saya udah ngelakuin hal yang saat itu TERPAKSA saya lakukan karena keadaan mendesak, but honestly saya gak bisa berhenti merasa bersalah, hiks.

Pagi itu, seperti ada yang salah dengan badan saya. Lemah Letih Lesu Lunglai (4L) dan kepala kleyengan efek hari pertama datang bulan ditambah dismenore dari malam sebelumnya. Sempurna.

Tapi itu juga pagi pertama berangkat kerja setelah seminggu cuti dan ngabisin waktu di Garut. Eeeergh, gak mungkin dong izin gak masuk lagi, apalagi karena saya mau bagi-bagiin oleh-oleh Garut ke temen Kantor. Gak banyak sih, tapi lumayan juga bawanya, supaya gak rempong banget, jadilah gak bawa bekal makan siang, "beli aja deh nanti di Kantin", pikir saya saat itu.

Seperti biasa, saya nunggu kereta balik yang akan datang sampai Depok dan kembali ke Duri. Jadwalnya jam 08.15 WIB tapi udah gak aneh kalau jadwal kereta jadi berantakan, Sangat (Orang) Indonesia banget ya ngga sih? *kemudian ditimpuk Para Disipliner sejati*. Dan yess, datanglah itu kereta balik sekitar jam 08.35 WIB dengan kondisi calon penumpang barengan saya udah numpuk. Tapi saya tetap santai karena badan lagi gak bisa diajak gerak cepat. Dalam hati berdo'a semoga tetap dapat kursi, mengingat kondisi badan yang khawatir bisa ambruk di tengah perjalanan kalau berdiri di kereta.

FYI, saya pernah ngalamin black out dua kali di kereta tahun kemarin. Dua kali!.

Dan kekhawatiran saya terjadi, saya kehabisan kursi setelah di pintu kereta sempat terdorong seorang Bapak sampai hampir tersungkur, untung masih bisa seimbangin badan dengan bawaan seabreg itu. Alhamdulillah.

Lihat kanan kiri kursi penuh semua, dan pandangan mulai berbayang lebih cepat dari yang ditakutkan, ya ampun rasanya mau turun lagi aja, tapi pintu kereta keburu nutup. Tidaaaak!.

Dengan terhuyung coba jalan dari gerbong satu ke gerbong lainnya, mata bergerak liar nyari kursi yang punya celah buat saya nyempil disana. Seriously, gak berharap duduk enak dan nyaman, asal bisa nempelin (ma'af) pantat aja udah lega. Yang penting bisa menghimpun tenaga dan gak sampai pingsan at least sampai Stasiun Tanah Abang.

Pemandangan Jam pulang kerja di Stasiun Tanah Abang. Dan semua ingin mendapat ruang di Kereta
Saya cuma nemu satu kursi prioritas dengan kapasitas empat orang ukuran standar, isinya dua orang Bapak-bapak yang tidur semua dan satu orang mbak-mbak kayaknya seumuran saya. Eh kayaknya masih bisa nyempil deh, langsung minta izin buat duduk diantara mereka setelah bawaan saya simpan di atas. Akhirnyaaa, duduk.

Perlahan mulai kumpulin tenaga setelah lima menit sebelumnya coba mejemin mata buat rileks dan fokus. Syukurlah semua masih baik-baik aja. Tapi, badan masih 4L dan tangan masih tremor, keringat dingin segede-gede jagung pun masih keluar.

Kereta sampai stasiun Lenteng Agung saat dua kelompok Ibu dengan membawa anak masuk tepat di pintu yang ada di depan saya. Dalam kondisi sehat dan stabil, biasanya saya langsung berdiri dan memberikan kursi saya karena memang itu hak mereka. Gak hanya saat di kursi prioritas aja, hal itu berlaku di kursi biasa, hati saya tergerak sama seperti sebagian Penumpang lainnya, terlebih kalau ingat Orangtua di Garut, atau ingat anak sendiri. Pilu rasanya bayangin keluarga sendiri ada di kondisi mereka dan gak ada yang ngasih duduk. Tapi kali itu, saya tidak berdiri dan hanya menggeser posisi duduk untuk memberikan space buat mereka karena saya pikir dua bapak yang tertidur di sebelah akan bangun dan berdiri.

Ternyata ngga. Dua Bapak itu masih mejem dan "pewe" dengan posisi duduknya. Baru bangun setelah diingatkan ada Ibu-Ibu bawa anak mau duduk. Jadi, kami semua para Perempuan dapat duduk. Saya lega, masih punya waktu buat kumpulin tenaga setidaknya sampai saya yakin dan merasa kuat untuk berdiri hingga tujuan akhir saya yaitu Stasiun Tanah Abang.

Setelah berjejalan di dalam Kereta, di luar pun berjejalan berebut naik tangga/eskalator
Hingga Stasiun Pasar Minggu, saya tidak merasakan badan saya membaik, udah mau nelpon Pak Suami aja rasanya minta jemput tapi kok nanggung ya. Yowes lah lanjut aja, saya gosokan minyak aromaterapi ke hidung, saya tutup hidung pakai masker yang ditimpa syal supata gak perlu nyium bau aneh-aneh yang bikin saya mual. Tapi tiba-tiba ada satu Bapak yang berdiri diantara sambungan gerbong nanya ke saya, "Ibu hamil?".

Sekian detik saya dilema dan perang batin, harus jawab apa, jujur apa bohong?. Hinggaaa, akhirnya kondisi badan menggerakkan mulut untuk jawab,  "iya Pak, saya hamil".

Setelah menjawab itu, langsung ada penyesalan di batin saya, berulang kali timbul pertanyaan mengapa saya harus berbohong, kalau saya gak bohong dan bilang badan saya sedang tidak enak apa mereka akan mengerti kondisi saya dan membiarkan saya duduk? Apakah saya akan kuat memaksakan untuk berdiri entah hingga stasiun mana mengingat kondisi kereta yang sudah penuh sesak? Dan pertanyaan-pertanyaan lain di benak. Ya Tuhan, ampuni hamba. Hiksss. Susah banget fokus saat itu.

Sepanjang perjalanan bener-bener gak bisa tenang, bawaannya seperti dihujam tatapan yang padahal gak ada yang ngeliatin juga. Tapi saya denger ada satu Bapak yang baweeel banget. Berulang kali dia bilang "ye kan mana gue tau, die hamil apa kagak, kadang suami aja gak tau kalo istrinye hamil lah apalagi gue". Logat betawi yang seperti nusuk-nusuk hati saya yang rasanya mau membusuk karena kebohongan saya. Ya ampun, mau nangis aja rasanya, tapi saya juga tau diantara perang batin itu, fisik saya sedang drop.

Seperti yang saya tulis diatas, saya pernah mengalami pingsan sebelumnya, sekali benar-benar pingsan dan sekali lagi hampir pingsan keburu dapat pertolongan dari Penumpang lain. Hal itu karena saya memaksakan diri untuk tidak duduk, saya berdiri tapi ternyata tidak kuat cukup lama, hanya beberapa stasiun kemudian lutut gemetar dan pandangan menguning lalu gelap.

Sejujurnya, saat saya memutuskan bohong, ketakutan saya adalah pingsan lagi, di kereta, di tengah-tengah penumpang yang saya bahkan gak kenal mereka siapa. Saya takut merepotkan, takut pingsannya lama, dan ketakutan lainnya. Tapiiii, berbohong pun ternyata membuat perasaan gak menentu, guilty feeling yang sangat hebat. 

Untuk kalian yang baru akan memulai menjadi AnKer, percaya deh, selain fisik siapkan juga mental. Karena di Stasiun apalagi dalam Kereta, apapun bisa terjadi, termasuk hal-hal yang gak mau kita lihat dan alami. Ini berlaku di semua moda transportasi sih ya, tapi saya akan fokus cerita di Kereta dulu aja yaaa, karena memang ini yang menjadi alat transportasi saya sehari-hari selain ojek online (nah ojek online ini juga punya banyak cerita sendiri, tapi eiits fokus ke Kereta dulu Haaan, konsisten! Haha). 

Balik lagi ke hal tadi, dimana saya berbohong, seandainya waktu terulang, saya gak akan bohong, gak akan bilang saya hamil. Mungkin saya akan pingsan, tapi setidaknya tidak akan merasakan perasaan bersalah seperti itu.

Oke Gaess, itu hal yang terpaksa saya lakuin saat di Kereta karena sikon yang urgent. Kalau kalian, pernah ngalamin kejadian yang bikin nyesel juga ngga saat naik Kereta? Please let me know, share di komen yaaa. Ma'aciiii udah bacaaa.



You Might Also Like

34 komentar

  1. saluttt sama teman-teman yang mobile naik angker di jam-jam kerja, terakhir bulan lalu aku langsung jetlag karena desak-desakan di CL

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak jarang kami pun jetlag, apalagi kalau kondisi badan memang sedang drop :(
      The Vitamin is a must!

      Delete
  2. aku liat foto2nya aja udah mo pengsan mba.. lambaikan tangan ke kamere deh! hahaha.. gak sanggup aku..

    ReplyDelete
  3. Truuueee! Sebagai sesama anker, mentalnya memang harus kuat banget. Waktu itu saya naik kereta dari Tanah Abang terus sempet "rebutan" tempat duduk sama bapak-bapak, tapi alhamdulillah masih rejeki duduk pas di seberangnya. langsung deh diliatin dengan tatapan tajam oleh sesebapak (yang saya tatap balik) dan perasaan campur aduk. Memang paling nyebelin kalo ada orang yang nggak mau ngalah samsek!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, I feel you Mbaaa. Pokoknya semenjak jadi AnKer, kita jadi ada "potensi" punya skilk "hipnotis" orang, pas kita naik,langsung tertidur lelap semua penumpang yang duduk, haha.

      Delete
  4. Kereta memang angkutan yg paling favorit utk kalangan pekerja di Jabodetabek, selain murah jg waktu yg ditempuh bisa lebih cepat.. Tapi salah satu kekurangan nya selalu ada gangguan sinyal dan anjlok.. Kalau saja setiap 5 mnt sekali kereta ada, mungkin tdk akan pernah terjadi penumpukan penumpang.. Selalu salut buat org2 yg setiap pagi bergelut dgn waktu di kereta api.. Semoga sistem transportasi kereta api bisa lebih baik lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiiin. Semoga kelak MRT bisa mengurangi tumpukan Penumpang CL. *yakali ngarep* :)))

      Delete
  5. Puk.. puk.. terkadang kebohongan diperbolehkan untuk sesuatu yang.. ah entahlah mbak, aku bukan ahli agama. Kali habis ini beneran Alfath punya adik mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, Amiiiiin. Mual2 karena hamil ya trus dapet kursi Prioritas terus, wkwk

      Delete
  6. Bukan anak kereta sih malah belum pernah juga ngerasain, mbak. Di Lampung kemana mana, naek motor. Tp baca cerita ini kok rasanya gak bakal tahaaan. Gile itu orang semua, mbak???? ������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbaa percayalah itu orang semuaa, haha.
      Karena ini aku jadi sangat merindukan suasana di Garut deh Mba, transportasi masih "waras" disana. :(

      Delete
  7. Mbak aku tau rasanya... 😢. Tapi lain kali bilang saja sedang sakit rasanya mau pingsan...
    Hidup kereta...! hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kakaaak, aku pernaaah lihat Penumpang lain di sebelahku yg sakit tapi gak ada yg ngasih duduk lho padahal keliatan dia udah drop, setelah beneran pingsan baru pada berdiri ngasih kursinya, huhu.

      Delete
  8. Saya baru sekali ngerasain naik kereta pas jam kerja. Cuma mau bilang salut banget sama mereka yang setiap hari mengalami ini. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi punya pengalaman jadi Pejuang Kereta ya Mba. Kelak kalau aku udah gak harus bolak balik naik kereta di jam kerja setiap hari, masa2 jadi "pepes ikan" pasti terus terkenang. #haseeek :))

      Delete
  9. Kan oernah kita berdesak desakan ria.. gak cewe gak cowo hantemm.. duhhh memang manusianya banyak jd transportasi masal pilihan buaaanyaakk orang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bangeeet, kan sering juga ya event Blogger yang jam pulangnya berbarengan dg jam Kantor, wuzzzz Sauna lah kita di Kereta

      Delete
  10. Gak bs ngebayangin deh tiap hari pp dr rmh k tmpt kerja naik kereta.. T.T apa g habis tenaga d jln tuh?


    dhe-ujha.com

    ReplyDelete
  11. aku mending naik kopaja ato metromini daripada kereta di jam2 sibuk, soalnya nyadar diri aku gak bisa berdiri lama diantara crowded manusia kereta, pasti keliyengan mual

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu waktu masih stay di Jagakarsa, pasti naik metromini atau Kopaja kalau mau ke Lebak Bulus. Walaupun aku ngeri, soalnya pernah kecopetan di Slipi tapi Alhamdulillah keburu ketauan. Dan hampir jatuh karena kurang kuat pegangannya, kecepatan metromini itu kayak kereta juga ya, wuzzz!!

      Delete
  12. Haduh...jadi bersyukur ga tinggal dg mode transportasi yg penuh selalu...seru banget ceritanya Haniii..ini blogwalking lagi nyari cerita #anker hehehe setrooong yaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, aku setrooong Mba insya Allah. Btw, iya Alhamdulillah bgt bisa nikmatin kendaraan umum yang "waras", itu kenikmatan tiada tara deh. Aku kangen Garut jadinyaaa :(((

      Delete
  13. Mba Haniii aku pun roker Depok.. Menggila memang mba penuhnya yaa, tp mau gimana lagi naik kereta udah paling bener. Hemat cepat.. :D Di prioritas banyak jg yg sakit yg duduk, selain hamil, lansia, sama bawa anak, aku pun maklum bgt sama org yg sakit.. Aku naik kereta yg dari dipo mba han, tp ya ampun itu masuknya jg rebutan dorong2an.. Bener mba jd roker mesti kuat fisik dan mental hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbaaa, toss! Salam kenal Mba Dita sebagai sesama AnKer Depok.
      Aku blm pernah lho mba naik di Dipo, bahkan blm tau lokasinya, sesekali harus nyoba nih. :))

      Delete
  14. Wah, hebat jg mba bisa tahan2 4L gitu, aku pernah mengalami pengalaman serupa, tp di bus antar kota, lagi macet, pusing dan berasa mau ambruk, udah deh nyerah nelpon suami, tapi itu emang pas lagi hamil :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemarin itu ditahan-tahan Mba sebenarnya :( Pernah sekali dalam perjalanan pulang, udah gak tahan badan sakit kedorong2 milih turun di Pasar Minggu baru dan nelpon Suami minta jemput, haha.

      Delete
  15. kebayang ruwetnya, klo aku sih udh nangis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah nangis mba, awal2 naik kereta ke Kantor, haha. Mungkin karena kaget ya belum terbiasa, ngerasa dunia kejam bangeeet, haha

      Delete
  16. Terbayang jelas drama yg harus dijalani Hani hiks...
    Tp gimana yaa...aku terlanjur cinta aih sm Kerera meski banyak bikin betenya hahaha

    ReplyDelete
  17. Kereta salah saatu jadi pilihan saya ketika menghadiri undangan pagi disekitaran Jakarta.Memang cukup sumpek dan menghirup oksigen pun susah tapi tetap saja saya pilih ini soale kalau naek motor bisa memakan lebih dari 2 jam perjalanan.

    ReplyDelete
  18. Memang mbak, naik KRL harus siap mental dan tenaga, terus kalo turun di Tanah Abang harus selalu waspada apalagi kalo lagi jam sibuk. Karena salah-salah bisa jatuh ke rel.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar dengan baik TANPA link hidup di kolom komentar. Dan cukup pakai Url blog saja ya teman-teman di ID namanya.

Part Of Author

Part Of Author
Buku Antologi Pertama & Kedua

My Voice Over Here

Like us on Facebook

Subscribe