Pilihan Menabung dan Berinvestasi.

Thursday, June 25, 2015


Lets Saving and Invest. via malezones.com
Di tahun kedua pernikahan, saya kembali teringat alasan dulu memutuskan resign adalah karena ingin mencurahkan waktu lebih banyak untuk putra kami, Alfath. Keputusan yang terasa benar, walaupun rintangan demi rintangan kami hadapi, terutama dalam hal finansial.

Saya menyadari kemampuan saya sebagai seorang manajer keuangan dirumah sangatlah payah.

Kondisi dimana penghasilan suami menjadi harapan satu-satunya dan gaya hidup saya semasa lajang (sebagai anak kost yang terbiasa beli makan diluar) yang tidak bisa dihilangkan sempat membuat hidup kami kelabakan. Gaji lumayan dengan kebutuhan yang besar ditambah kebutuhan anak yang semakin meningkat tidaklah mudah untuk dihadapi kalau kami tidak segera merubah rumusan dalam pengelolaan uang bulanan. Kami sempat merasa bahwa income rutin perbulan tidaklah cukup, dan kami perlu bantuan dari CC (Credit Card) terutama untuk yang sifatnya urgent seperti biaya kesehatan yang bisa saja diperlukan sewaktu-waktu.

Biaya kesehatan memang di cover dari kantor suami, namun saat itu masih menggunakan sistem reimburse, jadi kami tetap harus mempunyai “modal” biaya kesehatan terlebih dulu. Akhirnya iyaaa, suami pun apply CC di salah satu Bank Konvensional dan dengan mudah di ACC. Yeayy, mimpi buruk pun dimulai.

Beberapa bulan berjalan, CC yang kami punya pada kenyataannya tidak hanya digunakan untuk biaya kesehatan, tapi mulai merambah ke hal yang bersifat konsumtif. Kami pun menyadari satu hal setelah membaca salah satu artikel di ketegori “tips keuangan” Cermati.com, mengenai 7 tanda kamu salah dalam mengelola pendapatan bulanan. Iya, kami telah salah langkah dalam penggunaannya.
Syukurlah baca artikel ini.
 Di salah satu poin disebutkan tentang penggunaan CC sebagai solusi kurangnya gaji, padahal jelas itu bukanlah solusi. Saya pun membayangkan bagaimana jika saya dan suami terus menerapkan pola ini, dan suatu saat nanti kami dihadapkan dengan tagihan (hutang) yang menumpuk, bagaimana seandainya kami gagal bayar dan menjadi buruan debt collector. Jelas saya tidak mau.

Income bulanan yang hanya berasal dari salary suami, setiap rupiah haruslah digunakan dengan bijak. Ruang untuk kami bersenang-senang memang menyempit, mengencangkan ikat pinggang pun harus dilakukan demi kebaikan di masa depan, menabung dan berinvestasi.
Tips keuangan lainnya yang sangat bermanfaat di Cermati.com
Baiklah, say bubbye dulu sama makan diluar sering-sering, beli buku banyak-banyak, beli sepatu dan baju di Mall, prioritas utama saat ini adalah kebutuhan ketimbang keinginan . So, Lets saving money!!
 
Nabungnya gimana, dimana?. Kami memilih dan memilah cara menabung dan berinvestasi dengan baik dan benar. Beberapa diantaranya adalah :

Membuat Pos-Pos Keuangan.
Setiap pos biasanya saya pisahkan di beberapa amplop, itu memudahkan ketika akan di gunakan tinggal ambil saja sesuai judul di amplopnya. Misal : Pos belanja bulanan, gas, pulsa listrik, pulsa/paket smart phone, modem, biaya tak terduga.
Misalkan 100% income perbulan senilai satu juta rupiah, minimal 10% nya harus di sisihkan ke pos “biaya tak terduga”. Ini untuk menjaga kita terjebak hutang dalam kondisi urgent, dan untuk meminimalisir penggunaan CC.

Salah dua amplop untuk pos-pos bulanan. Sudah lecek, belum ganti baru :D
Menggunakan tabungan ber-ATM dengan saldo secukupnya.
Kami menggunakan fasilitas tabungan ber-ATM dengan saldo secukupnya, berhubung dengan kebiasaan kami yang sangat jarang membawa cash money berlebihan ketika bepergian, kami memang termasuk cashless person dan menyukai sesuatu yang lebih praktis.

ATM memudahkan, dan mengurangi beban bawaan saat bepergian, selain itu saya merasa lebih aman dibandingkan dengan membawa cash.

Tabungan Non ATM.
Saya dan suami selama ini merasa nyaman dengan produk-produk syari’ah begitupun untuk tabungan non ATM ini kami membuka tabungan dengan akad Wadi’ah (titipan) di salah satu Bank Syari’ah, tabungan wadi’ah juga mempunyai beberapa keunggulan lain seperti bebas biaya administrasi bulanan, bebas biaya penggatian buku tabungan apabila hilang/rusak, setoran awal & saldo minimum yang sangat terjangkau (sekitar Rp. 10.000), tidak ada biaya penarikan tunai di counter (teller).

Selain itu, tabungan ini dapat digunakan sebagai rekening sumber dana untuk pembayaran angsuran pembiayaan di Bank Syari’ah langganan kami, kalau memang diperlukan.

Tabungan-Tabungan Andalan Kami
Mengurangi limit CC (Credit Card).
Merupakan keputusan bijak ketika limit CC (Credit Card) dikurangi. Katakanlah limit CC sebelumnya adalah Rp. 5.000.000 saat ini kami pangkas menjadi Rp. 2.500.00 saja. Dan tentu saya dan suami bekomitmen kembali atas penggunaan CC ini, hanya untuk kepentingan darurat saja.

Kami sempat menjalani proses “pemutihan” lho gara-gara pernah gagal bayar bulanannya, dan itu satu mimpi buruk yang jangan sampai terulang. BIG NO!.

Membuka Tabungan Berencana.
Keluarga baru seperti kami sepertinya “wajib” membuat perencanaan keuangan sematang mungkin demi masa depan, salah satunya dengan membuka tabungan berencana. Mengapa bukan Deposito?.

Pendidikan anak yang baik, perjalanan Ibadah maupun wisata, uang muka rumah/kendaraan, dan banyak lagi yang dapat di wujudkan dengan program tabungan ini. Selain itu setorannya ringan, pilihan jangka waktu yang dapat disesuaikan, dan menguntungkan dengan bagi hasil yang relatif lebih tinggi dari tabungan biasa dan juga deposito. (saya menggunakan simulasi tabungan berencana syari’ah yang saya ikuti).
Pilihan Tab.Berencana /Berjangka bisa dilihat di Cermati.com
 Membuka usaha (Offline maupun Online).
Menyisihkan sebagian pendapatan bulanan untuk modal usaha adalah keputusan saya semenjak saya mempunyai kesempatan untuk berwirausaha. Tentu dengan menggunakan prinsip ekonomi “dengan modal sekecil-kecilnya, mendapatkan untung sebesar-besarnya” saya harus bekerja keras untuk mewujudkannya. Membuka usaha dapat menjadi salah satu cara untuk kita "ternak uang".

Toko Online. Salah satu cara untuk memutar uang.
Berinvestasi Saham.
Ketika saya dan suami mendapatkan kesempatan untuk belajar jual beli saham langsung di Bursa Efek, kami tidak menyia-nyiakannya. Semenjak itu kami mulai berkenalan lebih dekat dengan indeks saham dan mempelajari pergerakannya. Niatnya untuk berinvestasi bukan trading. Disini tentu kami harus menyiapkan mental sekuat baja, dan pengetahuan yang harus terus ditambah supaya tidak kecolongan.
Mempelajari investasi saham dan mempraktekannya.
Berinvestasi LM dan Dollar
Sedikit flashback ketika (Calon) suami saya bertanya mahar apa yang saya inginkan? Saya menjawab “logam mulia dan sejumlah dollar”, yang menjadi pertimbangan saya saat itu selain nilai histori, adalah suatu saat saya dapat menginvestasikannya.

Jumlahnya memang tidak besar, kami menyesuaikan nominal dan besaran logam mulia dengan tanggal pernikahan kami, tapi saat ini jumlah tersebut sangatlah bermanfaat.
Mahar Dollar, Emas (Logam Mulia) yang di investasikan.
Celengan Konvensional.
Walau ini dianggap kuno, tapi saya masih menerapkan menabung di celengan lho. Gak di target jumlahnya, biasanya dari sisa pembayaran atau dari kembalian, saya amankan di celengan.
Membiasakan Alfath menabung di celengan.
Baiklah, itu beberapa cara saving and invest money ala-ala saya (dan suami), masih belajar banyak sih memang, maka dari itu kami terus menambah wawasan dan mencari informasi dari Cermati.com.


 

You Might Also Like

10 komentar

  1. Zaman sekarang, pilihan menabung itu memang banyak ya, Mak. Aku sih, masih pake tabungan ber-ATM, biar gampang ngambil. Pengennya tidak ber-ATM biar susah ngambilya. Tapi gak bisa. Gudlak kontesnya, Mak. :)

    Btw, aku sudah follow blogmu, mak. Yuk #salingfollow :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin, makasi mak Nia. Sudah ku follow jg blog-nya ya :)

      Betul bgt mak, emang ada "ujian"tersendiri disaat pake tabungan non ATM, makanya ada saldo yg disisihkan di tab.ber-ATM tapi gak banyak2, susah2 gampang ya mak nahan buat gesek, hihihi

      Delete
  2. Kebutuhan masa depan itu susah diprediksi jadi musti nyisihin uang buat ditabung biar kata udah punya tabungan di ATM tapi aku masih punya celengan buat nyimpen receh2 kadang suka kececer di lantai, abis buat kerikan sih wkwkwk

    mba hani aku juga udah follow blogmu dari lama ikutan #salingfollow #KEB :)
    http://daridan.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuu.. nyisihin itu "Wajib" kayaknya ya.
      haha.. hidup celengaaaan :)))

      Sudah follow yaa :)

      Delete
  3. hihi aku juga punya tabungan yang tanpa ATM mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus utk mengendalikan dari "hawa nafsu" dikit2 gesek ya, hihi

      Delete
  4. Mantep tabungannya. Dan memang harus bijak menggunakan uang ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, susah2 gampang mengelola keuangan, pengendalian diri sangat diperlukan, ya ngga say? ˆ⌣ˆ

      Delete
  5. Wah tipsnya menarik sekali nih :) saya juga tertarik untuk investasi di saham di masa depan.

    Btw, sudah saya follow blognya ya, ditunggu folbeknya ^^

    www.noniq.co

    ReplyDelete
  6. Saham merupakan dunia penuh tantangan, tapi pantas dicoba ˆ⌣ˆ

    Oh iya, sudah di follow dr kemarin2 lho say, nice blog <3

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar dengan baik TANPA link hidup di kolom komentar. Dan cukup pakai Url blog saja ya teman-teman di ID namanya.

Part Of Author

Part Of Author
Buku Antologi Pertama & Kedua

My Voice Over Here

Like us on Facebook

Subscribe