Ibu, kasihmu seluas samudera

Thursday, November 27, 2014


“Suatu saat, kita semua akan menyadari bahwa Tuhan telah memberikan kita Malaikat yang biasa kita panggil, Ibu”.

Mother, My Heaven On Earth
Banyak definisi untuk mengungkapkan arti seorang Ibu (saya biasa memanggilnya Mama) dalam hidup, bagi saya pribadi Mama memiliki banyak peran yang terkadang tidak dapat digantikan oleh sosok lain, bahkan oleh sosok Ayah sekalipun. Mama memiliki kekuatan yang membuatnya terlihat tangguh diantara kelembutan dan keluwesannya. Mama dapat menjadi sahabat saya paling sejati diantara sahabat sejati. Terkadang ada perselisihan faham antara kami, ada perdebatan sengit, ada emosi yang terpercik, namun itu semua tidak akan menyulutkan kobaran cinta dan kasih yang sampai kapanpun tidak akan padam.

Sebagai anak saya sempat marah, kesal, dan bahkan emosi hingga mengeluarkan kalimat yang menyakitkan hati Mama, namun Mama tetap bersabar dan menerima omelan-omelan saya dengan senyuman, tak jarang dengan air mata. Saya sempat membanggakan jenjang pendidikan saya (yang sebenarnya tidak seberapa) yang lebih tinggi dari jenjang pendidikan Mama, pernah berargumen dengan istilah-istilah yang Mama tidak mengerti, namun Mama biasanya bilang “memang Mama bodoh tidak sepintar anak-anak Mama, bisa lulus SD saja Mama sudah sangat bersyukur”, tapi ilmu sebanyak apapun yang kita dapat dari bangku sekolahan, tidak akan mampu menandingi lautan ilmu yang seorang Ibu miliki. Lautan ilmu yang berombakan kasih sayang tak berujung.

Seringkali badan saya tidak sehat, dalam beberapa waktu harus melewati ribuan detik di tempat tidur, saat itu Mama selalu ada bahkan disaat kondisi badannya pun sedang tidak prima, apa saja dilakukan supaya kondisi saya membaik. Menunggui dan tahajud yang tak pernah henti, dengan nada pelan dan lirih namun jelas terdengar, Mama memanjatkan do’a, “Ya Allah, sembuhkan anakku dan biarlah hamba yang merasakan sakitnya”. Sesaat ketika saya siuman dari "tidur lelap" pasca operasi, Mama ada disebelah saya diruang operasi nan dingin itu, padahal saya tahu bahwa berada di ruang operasi adalah suatu phobia tersendiri bagi Mama saya, tapi Mama tidak menghiraukan rasa takutnya tersebut karena ada rasa takut lain yang lebih menghantui, yaitu rasa takut kehilangan saya, putri satu-satunya.

Banyak sosok Ibu yang turut membantu suami mencari nafkah dan membiayai anak-anaknya, menyekolahkan sampai jenjang tertinggi yang mereka mampu, Mama saya adalah salah satunya. Ketika kami (saya dan adik saya) sudah mampu mendapatkan rupiah demi rupiah, orangtua kami sangat merasa bangga, terutama Mama. Namun ketika kami ingin berbagi rezeki dengannya, maka akan keluarlah untaian kalimat manis seperti, “simpan saja uangnya, ditabung untuk keperluan di masa depan, Mama dan bapak bahagia melihat anak-anak bahagia dan berkecukupan, kami memang tidak bisa mewariskan materi berlimpah, namun semua ilmu yang kalian dapat selama sekolah, semoga dapat menjadi modal kalian mengejar cita-cita dan kehidupan yang kalian idamkan”. Disaat yang sama, kami tahu bahwa Mama sedang kekurangan uang untuk berobat.

Limpahan materi sebanyak apapun yang kita berikan kepada Ibu, tidak akan sebanding dengan jasa-jasanya selama hidup. Dari kacamata saya, Mama saya adalah sosok hebat dengan banyak kekuatan. Kata-katanya adalah do’a, Surga berada di telapak kakinya. Pun di kaki semua Ibu di dunia.

Banyak cara untuk menunjukan dan membuktikan bakti dan kasih sayang kita terhadap Ibu, bahkan salah seorang pembuat film asal Los Angeles yang bernama Matt Bieler, membuat video sebagai bentuk apresiasi dan rasa terima kasih terhadap semua Ibu di dunia, termasuk Ibunya sendiri. Matt mengatakan bahwa setiap pagi hingga petang di seluruh belahan bumi ini, ada seorang ibu yang menjadi pagi hari bagi keluarganya dan menjadi lagu tidur bagi anak-anaknya.

Tapi terkadang kesibukan kita sebagai anak yang memenuhi kepala dengan mimpi, lupa akan keberadaan sosok Ibu yang selama ini dalam setiap hembusan nafasnya tidak pernah lupa mengiringi langkah kita dengan do’a, kadang kita terlalu sibuk dan kehabisan waktu bahkan hanya untuk bertanya kabar Ibu di kampung halaman, semua hal sederhana namun berharga yang akan disesali pada saat Ibu telah tiada.

Merinding rasanya jika membayangkan Mama saya tidak bisa saya dengar lagi suara merdunya, sakit yang menyesakan dada bahkan saat semua hal itu hanya menjadi lintasan pikiran semata. Sakit yang mendera seolah hati terus-terusan di rajam dengan beribu-ribu penyesalan, dan pertanyaan yang sama terus menghantui kita, pertanyaan “bisakah waktu di ulang sehari saja? Bisakah diberikan waktu untuk memelukmu Mama tanpa di lepas hanya untuk meluapkan rasa rindu?”. Rasa rindu yang kita redam karena kita merasa waktu masih tersisa, merasa waktu masih akan terus memberikan kebersamaan antara kita dan Ibu, mungkin besok, lusa atau kapan-kapan kita pasti bertemu Ibu kita lagi. Disaat yang sama, mungkin itulah detik-detik terakhir yang tersisa dan yang kita sia-siakan. 

Bisakah kita mengulang waktu untuk bersimpuh dan memohon ma’af atas jutaan kesalahan tak terampuni?.

Ibu, Ibu, Ibu, Malaikat tanpa sayap dengan segala kelembutannya, dengan hati yang sangat besar, mampu mema’afkan kesalahan anak-anaknya jauh sebelum mereka meminta ma’af, mampu memberikan kasih dan rasa aman disaat yang dia terima adalah rasa sakit dan ketidak patuhan. Seperti itu pula lah gambaran sosok Mama bagi saya. Bahkan disaat saya sudah berumah tangga dan mempunyai Pangeran cilik sendiri, Mama selalu ada dan ikut mendampingi untuk membimbing buah hati saya yang tak lain adalah cucu pertamanya.

Kebersamaan Mama dan Baby Alfath
Karena hati Ibu dipenuhi lautan cinta dan ma’af bagi anak-anaknya. Sedangkan ungkapan terimakasih dari seorang anak terhadap Ibu, seisi lautanpun tidak akan cukup untuk membalas kebaikannya. Semoga Tuhan senantiasa memberikannya kesehatan dan kebahagiaan yang haqiqi kepada seluruh Ibu di dunia.

"Mama, kini aku tahu rasanya menjadi seorang Ibu, aku tahu sakitmu melahirkanku, aku tahu pedihnya menyusuiku dulu, aku rasakan letih dan lelahmu membesarkanku. Tak bisa ku ungkapkan rasa ma'af dan terimakasih ini. 

Mama, kami tahu kami tidak akan pernah bisa menjadi putra putrimu yang sempurna, terlalu banyak kesalahan yang membuat hatimu terluka, namun do'akan semoga kami dapat menjadi anak-anakmu yang sholeh sholeha sehingga setiap do’a yang terucap dari mulut kami untuk kebaikanmu, akan dikabulkan olehNya. Amin. Kami mencintaimu, Ma". 


You Might Also Like

2 komentar

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    Terima kasih.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar dengan baik TANPA link hidup di kolom komentar. Dan cukup pakai Url blog saja ya teman-teman di ID namanya.

Part Of Author

Part Of Author
Buku Antologi Pertama & Kedua

My Voice Over Here

Like us on Facebook

Subscribe