Pipilih Meunang Nu Leuwih

Thursday, August 28, 2014

Suatu saat ketika saya sedang berada di Kota Kembang, saya bertemu dengan teman lama sewaktu masih tinggal di Kota Kelahiran, namanya Wina. Wina terlihat berbeda dari terakhir kami bertemu beberapa tahun silam, sepertinya dia rajin merawat diri ke salon, semakin cantik saja.


“Wiiiin.. ya ampuuun, makin geulis (Cantik) aja, Udah nikah belum, tinggal dimana sekarang?” saya langsung memeluknya.

“Haai, nuhun (terima kasih) ya, kamu juga makin cantik, aku belum nikah, belum nemu yang cocok nih, aku masih tinggal disini (Bandung) kok, sekarang kost di Buah Batu” jawab Wina seraya membalas pelukan saya.

Kami hanya memiliki waktu beberapa menit saja untuk saling bertegur sapa, berhubung saya sudah ditunggu oleh uwa (kakak dari Bapak saya) dirumahnya yang berada di kawasan Kosambi.

Wina dulu sempat menjadi tetangga saya, rumah kami berdekatan, di kampung tempat kami tinggal, Wina memang terkenal sebagai kembang desa yang selalu dikelilingi banyak “kumbang”, namun Wina selalu menolak para “kumbang” jantan itu, bagi Wina laki-laki yang ingin mempersuntingnya haruslah berasal dari keluarga terpandang, mapan dengan segala fasilitasnya, Wina juga tidak begitu menyukai laki-laki yang bekerja kantoran biasa, dia lebih tertarik dengan bisnisman yang mempunyai proyek besar dimana-mana, dan yang terpenting lagi, laki-laki itu harus gaul dan tidak boleh ketinggalan zaman.

Secara tidak sengaja, saya sempat mendengar ketika Ibunya Wina curhat kepada Ibu saya tentang kekhawatirannya akan laki-laki yang saat itu sedang dekat dengan Wina, katanya laki-laki itu menyeramkan, badannya tinggi besar dan ada tato di lengan kanannya. Duh, Ibunya Wina sampai malu sama Ibu-Ibu sekitar rumah, Wina tak jarang menjadi bahan obrolan mereka. Saya sendiri sebagai temannya tidak bisa berbuat banyak, apalagi mengingat Wina punya hak untuk menentukan pasangannya sendiri, saya hanya mengingatkannya saja untuk lebih berhati-hati dalam memilih pasangan. Dan saya ingat, saat itu Wina sering bilang “ah, pokoknya aku harus nikahnya sama laki-laki yang sesuai kriteriaku, minimal dia punya mobil, dan seneng jalan-jalan kayak aku, badannya juga harus bagus, harus tinggi dan proporsional, dan yang lebih penting lagi dia nggak boleh ngebosenin” .

Sebagai teman, tentu saya mendo’akan jodoh yang terbaik untuk Wina.

Beberapa tahun kemudian, takdir membawa saya ke Ibukota untuk bekerja dan bertemu dengan jodoh saya. Lama sekali saya tidak bertemu dengan Wina, mendengar kabarnya pun hanya sesekali dari adiknya yang saat ini bekerja di Ibukota. Katanya Wina sempat berhubungan dengan seorang karyawan swasta, tapi kemudian Wina memutuskannya secara sepihak, alasannya karena wina merasakan ketidakcocokan diantara mereka, Wina selalu dilarang keluar kost di atas jam sepuluh malam, Wina merasa dia terlalu di atur-atur dan itu membuatnya tidak nyaman.

Wina juga sempat berhubungan dengan seorang laki-laki yang bekerja di pelayaran, namun hubungan mereka kandas karena perbedaan keyakinan. Terakhir, Wina dikabarkan menjalin hubungan dengan seorang pengusaha, tapi lagi-lagi hubungan mereka berakhir karena Wina tidak dapat menerima kenyataan ketika pasangannya bangkrut. Sesaat, saya kok melihat perjalanan cintanya Wina ini seperti cerita dalam sinetron, oh atau mungkin saja sebenarnya sinetron lah yang terinspirasi dari kisah cintanya Wina, hehe. 

Adiknya Wina pernah bilang, “teteh wina mah sekarang kasian hidupnya, jadi nggak jelas”, menurut ceritanya Wina ternyata sudah berkeluarga lebih dari satu tahun ini dan telah dikarunia seorang anak perempuan berusia sepuluh bulan. Harusnya saat ini adalah masa-masa terindah di pernikahan Wina dan suaminya, ternyata tidak. Wina menikah dengan laki-laki yang usianya lebih tua beberapa tahun, bertato dan mempunyai pekerjaan tidak tetap, selain itu mereka berbeda keyakinan. Banyak perbedaan yang menyebabkan kehidupan mereka sekarang tidak seperti yang mereka harapkan. Wina tinggal di Surabaya bersama anaknya dengan alasan biaya hidup disana murah, tetapi suaminya tinggal dikampung halamannya yang berada jauh di Papua. Mereka menjalani kehidupan secara terpisah dikarenakan faktor ekonomi  yang tidak memungkinkan mereka hidup bersama. Wina pun tidak betah berlama-lama tinggal dikampung halaman suaminya, selain karena tidak nyaman (baik dengan kebiasaan, adat istiadat, dan tempat tinggal yang jauh dari pusat kota), ternyata Wina juga tidak mendapatkan sambutan hangat dari keluarga suaminya dikarenakan keyakinan yang berbeda. Suaminya belum mendapatkan pekerjaan setelah proyek terakhirnya selesai, saat ini mereka hanya mengandalkan uang seadanya untuk sehari-hari, tabungan pun habis sementara kebutuhan anak semakin banyak. Badan Wina yang dulu sangat proporsional, menciut drastis dan menjadi sakit-sakitan. 

Mendengar itu semua, dalam hati saya bergumam kalau ini yang namanya “pipilih meunang nu leuwih”, sebuah pepatah/ungkapan dalam Bahasa Sunda yang artinya terlalu menjadi pemilih dalam mencari pasangan (atau hal lainnya) malah mengantarkan kita pada pilihan yang justru menyengsarakan, jauh dari yang diharapkan, padahal jauh sebelumnya ada pilihan yang baik di depan mata namun di sia-siakan.

Apa yang terjadi terhadap wina merupakan pelajaran berharga yang saya jadikan cambuk terhadap diri saya sendiri untuk selalu bersyukur atas apa yang saya miliki sekarang, termasuk pasangan hidup yang mungkin tidak sempurna bagi orang lain, tapi dia terbaik bagi saya. Dan semoga teman saya wina segera mendapatkan petunjuk untuk menyelesaikan masalahnya satu persatu, Amin.



You Might Also Like

14 komentar

  1. pipilih menang nu leuwih koceplak menang nu pecak nyak? :D

    ReplyDelete
  2. Ough, kutipan sunda ini nonjok bangeet yaa.. Sangat relevan, terutama untuk neng geulis yak. Jangan kebanyakan pemilih yang aneh-aneh. Thanks for sharing. Aku juga ikutan say... Cek di:
    http://bukanbocahbiasa.wordpress.com/2014/08/25/sadar-hati-anemoni-jaman-edan/

    ReplyDelete
  3. Kalo dalam bahasa jawa itu namanya "di weleh ke" sama gusti Allah mbak. Aku jg ada lho tmn yg jaman muda suka sesumbar pokoknya suaminya besok hrs ganteng, tinggi besar. Eh dptnya malah kecil, pendek , item. Makanya klo soal jodoh ngga boleh byk sesumbar ya..minta saja sm Allah agar diberikan jodoh yg terbaik:) nice post mbak..salam kenal^^

    ReplyDelete
  4. hmmm... Memilih jodoh yang baik... Wajib ..., tapi masih dapat juga yang gak baik.... Udah takdir kali mbak.....,,, ya..tapi kalau ad yang baik tapi di tolak... itu mo cari yang gmn lagi ya...he2,

    ReplyDelete
  5. unik ya bahasa sunda,weleh weleh...eh,itu mah beda ya hehe..
    makasih mbk sharingnya :)

    ReplyDelete
  6. @Mak Tian.. sumuhun maak, haha..
    @BukanBocahBiasa.. betuuul.. memilih boleh tapi jangan terlalu juga kali ya.. hihi.. Ikutan juga ya? mampir aaah..:p
    @Mak Arifah.. setuju banget, Allah Swt lebih tahu jodoh Terbaik utk umatNya. Dan untuk segala sesuatunya, kita patut bersyukur ya mak.. :) *salam kenal kembali
    @Mak Nova.. tanda-tanda orang yang tidak pernah puas/bersyukur kah mak yg seperti itu? hehe.. wallahu a'lam..
    @Mak Hanna.. hehe.. setiap bahasa mempunyai keunikan tersendiri pastinya, bagi saya sendiri, bahasa sunda malah hampir mirip2 bhs.Ingrris,semacam ada grammernya, haha..

    ReplyDelete
  7. Kalau orang banyak pipilih memang begitu nie..jadi kita mah mengikuti takdir saja..hehehe

    ReplyDelete
  8. jadi inget nasehat nenek saya jaman masih gadis, tong pipilih, nu penting mah bageur soleh, jeung tanggung jawab hehehe

    ReplyDelete
  9. @Liswanti.. usaha mungkin nggak masalah ya net, tapi kala terlalu banyak pertimbangan biasanya malah ga jadi2 ya.. hehe..
    @Adi Pradana.. setuju mas Adi.. :)
    @Mak Rina.. Leres pisan, langkung sae upami kasep, benghar (hate) sareng klik di hati ya mak, hahaha..

    ReplyDelete
  10. Dalam bahasa Jawa juga ada,"Pilih-pilih tebu oleh sing bongkeng" artinya milih-milih tebu akhirnya dapat yang jelek.
    Tapi memang geulis sih
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  11. Waah.. hampir mirip tuh Pak Dhe maknanya, apa mungkin di setiap daerah terdapat istilah berbeda dengan makna yg sama ya?

    Terimakasih sudah mampir ya Pak Dhe, sukses jg utk GA nya :)

    ReplyDelete
  12. ini yg namanya kucoba-coba melempar manggis, manggis kulempar mangga kudapat ... *eh, bukan ya?

    ReplyDelete
  13. iya, bener kata pakdhe tuh, pilih2 tebu entuke sing boleng, itu klo dlm bahasa Jawa. Terlalu pilah pilih malah akhirnya dapet yg enggak sesuai keinginan.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar dengan baik TANPA link hidup di kolom komentar. Dan cukup pakai Url blog saja ya teman-teman di ID namanya.

Part Of Author

Part Of Author
Buku Antologi Pertama & Kedua

My Voice Over Here

Like us on Facebook

Subscribe