Suamiku, Ijinkan Istrimu kembali Mengudara

Tuesday, June 17, 2014


Sesaat teringat kenangan beberapa belas tahun kebelakang, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar dan satu bangku dengan seorang sahabat yang bernama Retno Deninta Sari. Teman bertubuh langsing dan jangkung itu selalu mengajak saya ke tempat kerja papanya selepas waktu sekolah. Sebuah studio yang pada saat itu merupakan salah satu radio ternama dan menjadi satu diantara dua radio yang dimiliki kota kecil dimana saya dilahirkan. Ya, papanya Retno adalah seorang penyiar radio kondang disana. Mungkin itulah, awal dimana saya mulai “jatuh cinta” pada dunia radio.

Bercuap-cuap di udara, membayangkan suara kita didengarkan banyak orang, menjadi terkenal dan kemudian orang-orang bertanya kepada orangtua saya “Hani yang penyiar radio kondang itu anak Ibu dan Bapak ya? Waah hebat sekali, pasti bangga mempunyai  Puteri  seperti dia” mungkin merupakan satu impian tersendiri pada saat itu. Impian masa kecil, masa dimana impian tersebut dapat menguap dan berganti seketika dengan mimpi yang lain. Tapi ternyata tidak.

Tahun demi tahun berganti, ketika seragam sekolah sudah tidak merah putih lagi, ketika saya dan Retno sudah tidak satu sekolah lagi, ketika impian-impian baru mulai berdatangan di benak, itu tidak menghilangkan keinginan saya untuk menjadi seorang Penyiar Radio. Angan-angan dapat memutarkan lagu yang di inginkan pendengar masih melayang-melayang, dan terutama keinginan untuk dapat “didengarkan”.

Impian itu seolah mendekat dan menjadi nyata ketika seragam putih abu mulai melekat di badan, sebuah radio bergenre Young Hits yang pada saat itu tengah menjadi pusat perhatian anak muda di kota saya mengadakan sebuah ajang “DJ Anak Sekolah” dimana para anak sekolah diseleksi untuk kemudian diberikan pelatihan kepenyiaran dan kesempatan untuk bisa mengudara di acara khusus yang telah disiapkan. Saya menjadi salah seorang yang lolos seleksi. Bahagia bukan main. Dan kemudian kebahagiaan itu berkurang tatkala orangtua saya (terutama Bapak) tidak terlalu menyukai “dunia baru” saya tersebut. Di mata Beliau, radio adalah tempat main-main yang didalamnya banyak orang yang akan memberikan influence jelek bagi saya. Saya tetap diberikan ijin untuk siaran, namun masalah waktu dan pergaulan sangat dibatasi, tapi saya cukup puas atas kepercayaan Bapak tersebut.
Narsis saat Break Siaran
Hal yang tidak terduga, kurang lebih sepuluh tahun ternyata menjadi perjalanan yang tidak singkat untuk saya berkarir didunia broadcast (radio), hobi itu telah menjadi profesi yang sangat saya cintai. Tentangan demi tentangan saling berdatangan dari keluarga, yang menyayangkan Ijazah Sarjana saya hanya untuk di aplikasikan di radio saja, bagi kedua orangtua saya, radio bukanlah sebuah instansi untuk seseorang menempa karir yang hebat, Bapak pun mengingatkan saya bahwa ijinnya selama ini adalah untuk saya dapat “mencuri” ilmu di dunia radio dan menjadikannya sebagai batu loncatan untuk karir yang sesungguhnya.

Perusahaan demi perusahaan ternama pun menjadi “lumbung padi” baru saya selain radio, namun tetap hati saya berada ditempat yang sama, di depan mixer dan microphone. Dan ketika akhirnya saya memasuki dunia Perbankan kemudian menjalani kehidupan berumah tangga, serta harus meninggalkan karir (termasuk radio) seutuhnya, adalah awal dimana impian itu menjadi semakin besar lagi. Bedanya adalah, kali ini ijin untuk kembali “mengudara” bukan harus saya minta dari Bapak, melainkan dari Imam hidup saya, Suami tercinta.

Artikel ini di ikutsertakan dalam

You Might Also Like

6 komentar

  1. Terimakasih sudah berpartisipasi. Tolong share artikel ini di twitter juga dengan mention @ke2nai dan hashtag #Tanakita.

    ReplyDelete
  2. Saya juga pengin mengudara lho, asyik kalee ye.
    Bulan lalu pernah mengudara, acara talkshow dengan topik monetize blog
    Semoga berjaya dalam GA
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  3. pantesaaan, penyiar radio emg banyakan orgnya humble gt...eeeh emak yg ini udah humble manis pisaaaan....suaranya pasti semanis orangnya #rayuanmaooooot LOL

    ReplyDelete
  4. waahhh jadi pengen denger suaramu pas siaran mba ;) ...aku slalu salut ama penyiar radio, krn mereka bnyk tau lagu2 :D Dulu tuh pas msh sekolah, msh sukanya dgr2 radio, sering nelponin penyiar fav utk nanyain lagu doang ;p krn aku biasanya tau laguny, tp lupa judulnya :D

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar dengan baik TANPA link hidup di kolom komentar. Dan cukup pakai Url blog saja ya teman-teman di ID namanya.

Part Of Author

Part Of Author
Buku Antologi Pertama & Kedua

My Voice Over Here

Like us on Facebook

Subscribe