CERBUNG : PART II

Saturday, August 13, 2011

"Lodi.. Ini Aku.. Sonar"

Seminggu berselang setelah kepergian Sonar. Agung dan Tania setia menemani sahabatnya Lodi yang masih meratapi kepergian Sonar. Lodi akhirnya tertidur setelah beberapa hari hanya terdiam dan menangis. | "Kasihan Lodi ya Gung, gw ngga tega ngelihat dia kayak gini", bisik Tania | "iya, tapi kita harus tetap memberinya semangat supaya dia mau bangkit dan meneruskan hidupnya, meskipun Sonar sudah tidak ada".

Lodi berjalan di lorong sempit yang sangat panjang, Lodi terus menggapai diantara tembok yang terasa semakin menyempit sambil terus mencari ujung dari lorong tersebut. Tiba-tiba cahaya putih menyeruak di seperempat ujung lorong dan seketika itu pun muncul sosok yang sangat dikenalnya. | "Sonar, itukah kamu?" Lodi bertanya tetapi sosok itu mendekatinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Sonar, kamu datang.." | "Melodi, iya aku datang.. aku sedih melihatmu menangis terus menerus, tolong jangan.." | "Son, kamu kemana saja? aku menunggu kamu seminggu ini, ada yang aku ingin kamu tahu Son.." isak Lodi. | "Aku datang Lod, aku datang.. tapi tidak bisa lama, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.." Sonar meraih tangan lodi dan menempelkan telapak tangan Lodi diwajahnya. | "Son, wajah kamu pucat, kulit kamu terasa sangat dingin, bisakah kamu kembali seperti dulu untuk aku? aku kangen kamu" | "aku juga, tapi keadaan kita berbeda sekarang, sulit untuk kita saling meraih satu sama lain, tapi kamu harus tahu Lod, perasaanku ke kamu ga akan berubah sedikitpun" | "aku tau, dan itu juga yang mau aku bilang siang itu.. ternyata perasaan aku sama dengan apa yang kamu rasakan, ma'afkan aku karena terlambat menyadarinya, ku mohon kembalilah" | "kita berbeda sekarang.. kita berada di dua tempat yang tidak bisa menyentuh satu sama lain.. Lod, aku harus pergi sekarang.. berjanjilah kamu akan baik-baik saja, tolong jangan menangis lagi.." cahaya yang meredup semakin menyamarkan keberadaan Sonar | "Engga, Sonar aku mohon jangan.. Sonar, aku belum selesai, masih banyak yang aku ingin kamu tahu Son, tolong kembali.. tolong jangan dulu pergiii... Sooon.. Sonar kembalilah, Sonaaaaaar.." Lodi berteriak dan kemudian dia tersadar. Lodi bermimpi.

Tania yang sedang menyiapkan makanan di dapur mendengar teriakan Melodi dan langsung berlari menghampiri Melodi yang sekarang tengah kembali menangis di tempat tidurnya. | "Lod, lu kenapa? lu pasti mimpi.. ini gw bawain lu jus, minumlah.." Lodi terus terisak-isak dan akhirnya memeluk sahabatnya itu "Taaaan, gw mimpi Sonar datang, di mimpi itu dia pucat dan dingin, Taan.. gw kangen diaaa.. gw pengen dia adaaa.." | "Lod, lu harus tabah, ini udah seminggu semenjak Sonar pergi, lu harus bangkit Lod, Sonar ga akan suka lihat lu kayak gini" | "iya Tan, di mimpi tadi, dia juga bilang gitu, tapi gw ngga bisa, gw masih berharap dia akan datang, gw sayang sama dia Tan.. gw sayang sama diaa.." Tania memeluk erat Melodi.

"Alam lain telah merenggutmu dariku.. dan bagaimana caranya aku bisa sampai kesana??"

Suasana kampus pagi itu sangat ramai. Ini hari pertama Melodi kembali melaksanakan kewajibannya sebagai Civitas Akademika pasca kepergian Sonar. Ngampus.
Lodi merasa tidak nyaman berada di tengah keramaian, dia memilih untuk duduk di taman belakang kampus, di bawah pohon lengkeng itu biasanya dia menghabiskan waktu dengan Sonar. Sahabatnya, kekasih hatinya. Dua minggu yang lalu, mereka masih berantemin tempat Pameran Photograp angkatannya, masih lekat di ingatan Melodi, pada saat yang sama, Sonar mengajukan pertanyaan yang sama untuk keseratus kalinya, "Lod, kamu mau ngga jadi bagian dari masa depan aku?", dan untuk keseratus kalinya juga Melodi menjawab pertanyaan Sonar dengan jawaban yang sama, "Engga, titik!!". Dan Sonar selalu menanggapi jawaban Melodi dengan senyuman, "suatu saat kamu akan menyesali jawaban kamu itu jeleeeek.. ahahaha" | "aaaah Sonaaar, jangan nyubit siiiii.. sakiiiiit". Melodi mengingat semua itu rasanya seperti baru kemarin kejadiannya, dia masih ga bisa percaya Sonar telah pergi untuk selamanya, matanya mulai hangat. Ketika dia memutar pandangan ke arah vertikal untuk menjaga supaya air matanya tidak jatuh, selembar daun kering jatuh tepat di wajahnya, daun kering yang biasanya jadi objek photography andalan Sonar. Setengah tak percaya, Melodi memperhatikan lagi daun kering itu, dan memang tulisan itu ada disana. Hanya ada satu kalimat "Aku menyayangi-mu seperti hal nya angin yang akan tetap membuai lembut daun-daun kering ini". Mata Melodi semakin menghangat, dan satu tetes airmatanya tumpah sudah, setengah tak percaya Melodi membaca lagi tulisan itu. Tulisan tangan Sonar ....


Bersambung..


"KuGy" Jakarta August 13, 2011

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar dengan baik TANPA link hidup di kolom komentar. Dan cukup pakai Url blog saja ya teman-teman di ID namanya.

Part Of Author

Part Of Author
Buku Antologi Pertama & Kedua

My Voice Over Here

Like us on Facebook

Subscribe